Dmie jagung-2iversifikasi pangan merupakan salah satu program yang menjadi prasyarat ketahanan pangan Indonesia. Melalui diversifikasi pangan diharapkan konsumsi masyarakat beragama terutama untuk bahan pokok. Selama ini makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras. Tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai 130 kg per kapita pertahuan (Suswono dalam http://bbp2tp.litbang.pertanian.go.id). Tingkat konsumsi beras ini tidak sebanding dengan luas lahan padi dan hasil panen yang hanya 2.5 – 3 juta ton perbulan.

Selain konsumsi beras yang tinggi, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam konsumsi mie instan juga sangat tinggi. Mie instan yang ada saat ini hampir semuanya berbahan baku gandum yang diimpor 100% dari luar negeri. Indonesia belum bisa memproduksi gandum karena kondisi iklim yang tidak mendukung. Masalah kesehatan pada mie instan juga menjadi pro kontra di kalangan masyarakat.

Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menelurkan dua inovasi untuk ikut serta dalam upaya diversifikasi pangan yaituHealty food mie jagung dan beras analog. Kedua pangan tersebut berbahan dasar jagung. Jagung sebagai bahan makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia sudah tergeser peranannya oleh beras. Dengan kedua ini diharapkan bisa menjadi pangan alternatif.

Untuk mencapai tujuan memasyarakatkan mie jagung dan beras analog IPB menunjuk PT BLST sebagai perusahaan yang dimiliki IPB untuk mengembangkannya ke skala komersial. Tahap awal pengembangan akan dilakukan di unit produksi skala pilot dengan tujuan untuk pengujian sustainability produksi dan respon pasar.

Pilor Plant mie jagung dan beras analog akan beroperasi pada pertengahan tahun 2015. Unit ini memiliki kapasitas produksi 200 kg/jam. Untuk pengembangan pasar PT BLST membuka kerjasama kepada pihak swasta maupun instansi pemerintah baik itu sebagai pembeli, distributor, ataupun retailer.

Pengembangan Mie Jagung dan Beras Analog
Tagged on: