Selayaknya perguruan tinggi, maka tugas utama Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah melakukan riset yang bisa menghasilkan inovasi dan solusi bagi kepentingan masyarakat luas. Tetapi sayangnya, ratusan inovasi dari riset yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen dan peneliti umumnya berakhir menjadi dokumen di perpustakaan, hanya segelintir yang berhasil menjadi solusi bagi masyarakat. Melihat kondisi ini, maka IPB melalui Wakil Rektor III Bidang Sarana dan Bisnis, Arif Ilham Saroso bersama timnya membentuk PT Bogor Life Science Technology (BLST).

BLST adalah perusahaan induk (holding) yang berfungsi untuk menjalankan semua kegiatan IPB dalam bidang bisnis termasuk komersialisasi inovasi yang dihasilkan dari riset-riset yang diselenggarakan di kampus hijau itu. Khusus untuk komersialisasi inovasi dijalankan dibawah anak perusahaan yang bernama PT IPB Science Techno Park (IPB STP).

Direktur Utama BLST, Dr Meika Syahbana Rusli, mengatakan, IPB STP ini dibangun untuk menjadi jembatan atau wadah yang bisa mempertemukan inovator dan investor. “Semua hasil riset dari kampus yang sudah memenuhi kriteria komersil akan di bawa ke sini untuk dikembangkan menjadi bisnis lewat dua pilihan yakni kami (BLST) kembangkan sendiri menjadi anak perusahaan dan yang kedua menggandeng investor,” jelas Meika.

Taman seluas 3,5 hektar itu dibangun di atas lahan milik IPB yang merupakan bekas kompleks Fakultas Kedokteran Hewan. Dengan investasi sebesar Rp 20 miliar, BLST memugar gedung dan halaman kompleks tersebut menjadi pusat riset, laboratorium, inkubator bisnis teknologi, rumah kaca, galeri inovasi, meeting room, park management office, multitenant building dan guest house.

Menurut Meika, ada empat aktivitas utama yang berjalan didalamnya. Pertama, komersialisasi riset dan pengembangan produk. Kedua, inkubasi bisnis teknologi. Ketiga, pelatihan, konsultasi dan workshop. Keempat, pilot plant untuk para inovator yang inovasinya masih dalam fase atau tahap startup. Tak hanya itu, IPB STP juga menyediakan layanan pendukung bagi para pelaku industri yang membutuhkan laboratorium untuk biomedicine, bioteknologi dan food technology. “Jadi konsepnya science techno park ini adalah adalah penciptaan area terpadu untuk pengembangan dan komersialisasi hasil inovasi produk dan jasa bidang pertanian tropik, pangan dan peternakan,”jelasnya.

Ratusan riset dari kampus yang akhirnya bisa terpilih untuk dikomersilkan lewat IPB STP ini melewati beberapa tahapan seleksi terlebih dahulu. Pertama riset dari jurusan atau fakultas yang propektif diuji apakah inovasinya dapat diproduksi dan di terima oleh pasar. Setelah lolos seleksi tahap pertam, inovasi kemudian masuk ke inkubator bisnis teknologi di IPB STP. Selanjutnnya jika menunjukkan pertumbuhan bisnis yang membaik maka akan masuk ke pilot plant skala stratup dan sekaligus mendapatkan seed money atau investasi awal dari BLST sebesar Rp500 juta.

“Hingga level startup pun kami terus lakukan uji pasar dan teknis produksinya, inovasinya apakah akan tetap stabil diproduksi dalam jumlah besar jika nanti diambil oleh industri?,”jelas Meika. Startup yang berhasil tumbuh denga bagus akan dinaikkan levelnya menjadi anak perusahaan BLST, bisa berupa perusahaan joint venture antara BLST dan investor, atau anak perusahaan dengan BLST menjadi pemegang saham tunggal. Seluruh proses seleksi tersebut dijalankan oleh komite bisnis yang terdiri dari pengusaha, ahli sains, ahli hukum, praktisi bisnis, ahli marketing dan ahli branding.

Sejak tahun 2015 – 2016, IPB STP telah menghasilkan beberapa inovasi yang berhasil dikomersilkan dinataranya adalah bibit kacang kedelai hitam untuk PT Unilever Indonesia, substrat vaksin polio untuk produksi vaksin polio Bio Farma, bibit pepaya California, vaksin flu burung, enzim dan traktor. Menurut Meika, masing-masing inovasi tersebut ada yang dikembangkan dengan membangun perusahaan patungan, misalnya vaksin flu burung dikembangkan lewat PT IPB Sygeta yang merupakan perusahaan patungan IPB dan sebuah perusahaan asal Jepang. Ada juga yang dikomersilkan dengan sistem royalti dan atau yang dikembangkan sendiri oleh BLST, seperti bibit pepaya California dan beras analog yang dijual lewat gerai ritel BLST, Serambi Botani yang tersebar di 14 mall di Indonesia.

Sebagai sebuah perusahaan, menurut Meika, IPB STP dijalankan oleh manajemen yang profesional, “Kami rekrut secara profesional dan dijalankan dengan prinsip bisnis, jadi kami benar-benar mengedepankan efisiensi serta profit oriented,”ungkapnya. IPB STB ini dikembangkan dengan misi sepenuhnya untuk komersil dan visinya adalah menjadi science techno park paling produktif di bidang pangan dan bio-science di Asia Tenggara. Kedepan untuk memperkenalkan inovasi-inovasi terbaru kepada investor atau industri, Meika mengatakan pihaknya akan rutin melakukan pameran inovasi di dalam area IPB STP, investor summit dan taman itu sendiri pun akan dibuka setiap hari bagi pihak swasta dan masyrakat yang ingin mengenal lebih dekat inovasi terbaru dari IPB.

IPB Science Techno Park Mempertemukan Innovator dan Investor
Tagged on: